Sabtu, 09 November 2013

Pemimpin yang baik dalam Organisasi

- Pemimpin punya pemahaman yang jelas tentang mau dibawa ke mana perusahaan/organisasinya dan memiliki strategi yang jelas untuk mencapainya.
- Pemimpin yang baik bisa memastikan pesan yang disampaikannya diterima oleh setiap orang dalam organisasi dengan persepsi yang sama dan jelas.
- Disebut pemimpin karena dia memimpin, dan pekerja disebut demikian karena dia bekerja. Pemimpin yang baik mampu mendorong orang lain untuk melakukan tugasnya, dan bukan melakukan sendiri semua tugas-tugas itu.
- Tidak hanya sekedar visioner dengan strategi dan arah yang jelas, pemimpin yang baik paham benar seluk beluk, kekurangan dan kelebihan, risiko serta segala hal tentang bidang yang digeluti.
- Pemimpin berada di garis depan dan memberikan pengaruh yang baik bagi perusahaan dan bawahannya. Dalam segala hal dirinya mampu menjadi teladan.
- Berubah-ubah sikap untuk menyamarkan citra diri yang sesungguhnya, ini bukan sikap pemimpin yang baik. Seorang pemimpin mengambil sikap yang jelas tentang bagaimana dia akan mendengarkan, menyampaikan sesuatu, melihat dan menilai sesuatu, serta konsisten dengan sikapnya itu.
- Beriringan dengan citra dan kemampuan berkomunikasi yang baik, pemimpin yang baik memiliki sesuatu yang istimewa di dalam dirinya yang membuat orang lain pun merasakannya.
- Tidak cukup hanya punya skill, pemimpin yang baik sangat tekun dalam pencapaian tujuan dan visi yang telah ditetapkan. Pemimpin bisa sangat kejam untuk itu, namun pemimpin yang baik melakukannya dengan cara yang sangat bersahabat.
- Pemimpin yang baik membawa energi yang sangat besar bagi bawahannya, dan selalu ada semangat yang dikobarkan dalam setiap tugas yang diberikan, dalam setiap bidang yang ditangani. 



pemimpin dapat memahami bawahannya
pemimpindapat mengkondisikan bawahannya
pemimpin tidak hanya berbicara tapi berbuat 

Jumat, 08 November 2013

Logika Teror, Logika Bola

Jakarta, (ANTARA News) - "Jangan biarkan dia hidup. Bunuh dan bunuh!", demikian teriakan membahana di atmosfer bola dari para pendukung satu kesebelasan untuk menghabisi dan menamatkan riwayat musuh bebuyutannya.

Bunuh satu orang, dan buatlah seribu orang ketakutan. Ini logika teror, karena di sana termuat momen kematian dan kekerasan.

Daulat membunuh lawan - dalam sepak bola - tampil sebagai pengejawantahan perang. Dideskripsikan bahwa sebelas orang bersenjatakan pedang plus tameng digambarkan sebagai skuad petarung. Lawan menghadang, bayarannya kontan, "Serang dan serang. Lesakkan bola ke gawang lawan".

Darah sebelas orang tersirap, masing-masing kesebelasan siap saling beradu kuat. Ini logika bola, tersimpan momen "survival". Menurut filsuf Elias Canetti, bentuk paling rendah dari "survival" adalah membunuh.

Baik logika teror maupun logika teror merujuk kepada pedagogi perang yang berbunyi, jangan melihat musuh sebagai musuh pribadi melainkan musuh kolektif. Ada defisit jiwa dari manusia-manusia nihilistis baik dalam logika teror maupun dalam logika bola. Ada momen konfrontasi.

Teror membalut ledakan bom di Hotel JW Marrriott dan Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Jumat pagi (17/7). Manchester United membatalkan jadwal turnya untuk bertemu dan berlaga dengan tim Indonesia All-Star di Jakarta, yang diagendakan berlangsung Senin (20/7).

Pecinta sepak bola Indonesia menelan pil kekecewaan. Terbentang tiga kata, "Selamat Tinggal Jakarta", seperti dikutip dari sebuah harian nasional. Logika teror, logika bola. 

Rencananya, Wayne Rooney dan kawan-kawan akan menginap di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, setelah menyelesaikan laga di Kuala Lumpur, Malaysia. Di Jakarta, bom meledak. Di Kuala Lumpur, Manajer Setan Merah Alex Ferguson menggelar jumpa pers. "Mengejutkan bagi kami semua. Kami baru menerima berita itu saat kami mendarat (di Kuala Lumpur)," katanya. Ujung-ujungnya, MU membatalkan kunjungan ke Jakarta.

Sebuah gambar melukiskan kekecewaan manajer asal Skotlandia itu. Satu tangannya menyangga kepala dan menutup mata. Warta tubuh yang melukiskan kekecewaan. Malang tak kuasa ditolak, duka tak kuasa direnggut. Perwakilan Pro Events di Indonesia, John Merritt menambahkan, manajemen MU membatalkan laga di Indonesia, karena alasan keamanan.

Setali tiga uang, CEO United, David Gill menyebutkan, "Keputusan sudah dibuat tim dan itu sudah mempertimbangkan banyak hal, terutama keselamatan pemain dan tim keseluruhan." Ketika menjawab logika teror, Ferguson dan Merritt bersama Gill, sama-sama memberi makna humaniora.

Dalam buku berjudul Memahami Negativitas, Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma, staf pengajar STF Drijarkara, F. Budi Hardiman menulis, kekerasan adalah penegasan-apa adanya, sementara rasionalitas adalah penegasan-diri dengan jalan putar. Diibaratkan bahwa seekor anjing yang jinak adalah nista dan rendah di hadapan anjing-anjing liar di rimba raya.

Logika teror merayakan kematian. Logika bola menziarahi kehidupan. Logika teror melahirkan manusia nihilistis, karena memeluk ketiadaan dan kehampaan. Logika bola memanggungkan manusia yang menghidupi pengharapan.

Baik logika teror maupun logika bola memandang Dunia menjadi tidak ramah (unheimlich). Meski dalam kematian (logika teror) dan dalam kekalahan (logika bola), manusia mendapati dirinya sunyi. Kebebasan manusia menjadi kebebasan menuju kematian (Freiheit-zum-Tode).

Logika bola, dapat diterjemahkan" dalam kehidupan remaja sebagai kesediaan mendengarkan sesama remaja yang sedang merasakan kesunyian. Warta romantisnya: Ketika dirimu sedang mengalami sakit hati, jangan coba menyembunyikannya.

Sebaliknya, gunakan kesempatan untuk mencurahkan perasaanmu kepada orang lain. Berada bersama orang lain ketika sedang menderita kerapkali dapat menghibur diri dan menyehatkan gizi jiwa.

Logika teror, memilih jalan bunuh diri sebagai akhir dari pengharapan. Menurut sosiolog Emile Durkheim, bunuh diri anomik menyeret seseorang kepada pandangan hidup yang seolah-olah kosong.

Padahal, ziarah hidup gegap gempita dengan keriangan dan kecerahan seperti matahari yang terbit dari Timur dan terbenam dari Barat. Sementara, bunuh diri egoistik menyeret individu ke dalam jurang kesepian yang menekan.

Logika remaja, mengamini kredo bahwa jangan bersedia menjadi korban rasa bete orang lain. Remaja yang merasa bete cenderung bersikap negatif, cepat bereaksi dan suka bertengkar. Rasa bete memunculkan sikap sinis, mengucapkan hal-hal menyakitkan dan menyalahkan orang lain.

Logika teror, logika bola dan logika remaja mengerucut kepada satu hukum manusia, "suasana hati yang buruk menipu hati kita semua. Begitu mengenali kekuatan suasana hati yang menipu itu, maka diri ini bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang bersikap aneh ketika suasana hatinya sedang buruk".

Ketiga logika itu menunjuk kepada "sang survivor". Nah, dalam buku Leviathan, filsuf Thomas Hobbes menulis bahwa setiap orang adalah pelaku potensial sekaligus korban potensial dari sebuah kekerasan.(*)

Remaja Butuh Kasih Sayang dan Logika


Banyak orang tua seringkali mengalami kesulitan berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang sedang tumbuh beranjak remaja. Anak-anak yang sedang memasuki usia remaja biasanya mulai menunjukkan sikap memberontak dan menuntut banyak perhatian dari kedua orangtuanya.
Pakar parenting dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, mengungkapkan bahwa 54 persen anak perempuan di Indonesia pada usia 9 tahun sudah mengalami menstruasi sehingga mereka sudah dapat dikatakan memasuki usia remaja. Seiring dengan itu terjadi juga perubahan-perubahan dalam diri anak-anak kita, baik anak perempuan maupun laki-laki.Apa saja perubahan itu?
1. Perkembangan Otak.
Memasuki usia remaja otak anak berkembang dengan sangat pesat, dari awalnya mereka berpikir konkrit (berpikir dengan cara melihat obyek), kini mereka juga bias berpikir secara abstrak (mampu mengolah kata-kata yang diterimanya). Kemanpuan analisa sintesa dan aspek-aspek berpikir anak berkembang secara penuh.
2. Hormon.
Hormon testosterone pada tubuh anak berkembang 20 kali lebih cepat menyebabkan terjadinya perubahan fisik seperti wajah berminyak, tungkai kaki memanjang, tumbuh bulu-bulu halus, hidung membesar dan sebagainya. Sayangnya, belum tentu semua anak bias menerima perubahan-perubahan ini sehingga dapat menimbulkan kekacauan emosi pada anak.
Kekacauan emosi atau emosi yang berayun menurut Elly Risman biasanya ditandai dengan banyaknya keluhan yang dirisaukan oleh anak. Antara lain tentang ketidakpuasan terhadap dirinya, lingkungan, ditambah beban-beban pelajaran di sekolah dengan jam belajar yang panjang juga les-les tambahan yang membuat anak sulit memiliki waktu santai. Hal ini meningkatkan rasa cemas berkepanjangan dalam dirinya.Dan saat cemas itu datang, aliran gelombang otak anak yang normalnya 10 putaran per detik meningkat menjadi 25 putaran per detik.
Hal ini mengakibatkan sel-sel otak anak pada Pre Frontal Cortex (PFC), bagian otak yang berada di depan persisnya terletak di atas mata sebelah kanan menjadi kelelahan. Kelelahanpada PFC ini pada akhirnya akan mematikan ribuan bahkan jutaan sel pada otak anak, karena otak tidak didesain untuk menanggung stress dalam waktu lama. Lalu bagaimana menyelamatkan anak remaja kita?
Menurut Elly Risman, dibutuhkan kasih sayang dan logika untuk para orangtua agar bias menerima, memahami dan menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri anak-anak kita saat beranjak remaja.
KASIH SAYANG.
Bangun ikatan hubungan emosional dan komunikasi dengan anak berlandaskan cinta. Anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan perasaannya agar emosi yang sedang ia alami bias mengalir. Sebagai orang tua, mendengarkan keluhan anak tidak hanya membutuhkan sepasang telinga, tapi juga membutuhkan hati, jiwa dan mata kita. Dengan perhatian penuh, anak merasa mendapatkan perhatian yang dibutuhkannya sehingga ia membangun kepercayaan pada orang tua untuk menjadi tempat berkeluh kesah tentang apa yang mereka rasakan dan beban-beban yang menghimpitnya.
Komunikasi yang membutuhkan hati, jiwa, mata dan telinga ini merupakan syarat utama orang tua agar bias memeriksa setiapfase pertubuhan psikologis dan fisik anak-anak remajanya. Sebagai contoh, factor asupan makanan sangat berpengaruh pada pertumbuhan anak. Anak-anak yang sering makan makanan cepat saji cenderung akan menjadi gemuk. Pada anak laki-laki, kegemukan bias menyebabkan ukuran alat kelaminnya tidak sebesar ukuran normal anak seusianya. Nah, jika sejak kecil kita tidak terbiasa membangun komunikasi yang hangat, bagaimana kita bias tahu bahwa remaja kita cemas tentang ukuran alat kelaminnya yang berbeda dari teman-temannya? Padahal disisi lain, masalah ini ternyata sebenarnya juga membutuhkan pengobatan medis sejak dini sebelum mereka memasuki usia remaja.
Keterbatasan waktu seringkali menjadi kendala bagi banyak orang tua untuk bias mendengarkan perasaan-perasaan anak secara penuh. Apalagi bagi orang tua yang bekerja, biasanya saat pulang kerja sudah kehabisan energi. Belum lagi jika ada pekerjaan yang dibawa pulang dan harus diselesaikan sesegera mungkin. Kondisi ini memaksa anak harus berebut perhatian dengan tugas-tugas kantor orang tuanya bahkan gadget yang selalu dalam genggaman sang ayah dan ibu.
Elly Risman menyarankan sebaiknya saat memasuki rumah para orang tua menyiapkan diri dan tubuh untuk member perhatian pada anak. Singkirkan semua masalah-masalah kantor dan aneka gadget sejenak saja untuk member waktu pada anak kita berbicara.
LOGIKA.
Mengasuh anak tidak cukup hanya mengandalkan cinta, namun juga membutuhkan logika yang menuntut komitmen dan kerja keras. Dengan perkembangan otaknya secara penuh, kita juga harus mendidik dan mengajarkan mereka tentang tanggung jawab dan mengenalkan anak-anak pada rasa kecewa, sakit, sedih dan jatuh bangun. Jika anak dibiasakan hidup dengan aman dan sempurna mereka akan kesulitan belajar memahami penderitaan. Karena bentuk-bentuk penderitaan di atas merupakan salah satu bentuk pelajaran tentang hidup. Kenalkan juga anak sikap tanggung jawab dan konsekuensi dari semua perilakunya.
Saat anak sedang belajar tentang rasa sakit atau kecewa, menurut Elly Risman, orang tua harus berperan sebagai jarring pengaman emosi bagi anak. Dampingi dan bantu mereka bangkit dari rasa sakit. Beri mereka kesempatan belajar menentukan pilihan-pilihan dalam mengatasi masalahnya dan mengerti setiap konsekuensi yang timbul atas keputusannya. Dengan begini kelak saat anak beranjak dewasa mereka bias mempunyai sikap dan integritas.
Jadi, mari kita bangun komunikasi yang baik dan hangat berlandaskan cinta sehingga kita bias menjadi jarring pengaman emosi bagi anak-anak remaja. Keberhasilan mereka mengatasi gejolak emosinya di masa remaja akan membentuk karakter mereka kelak di masa depan.(irma)

kisah gadis matematika dan gadis logika

Ada dua orang gadis, salah satu dari mereka
cara berpikirnya MATEMATIS (M) dan yang
satunya cara
berpikirnya mengandalkan LOGIKA ( L)
Mereka berdua berjalan pulang melewati jalan
yang gelap, dan jarak rumah mereka masih
agak
jauh.
Setelah beberapa lama mereka berjalan….
M : Apakah kamu juga memperhatikan, ada
seorang pria yang sedang berjalan mengikuti
kita
kira2 sejak tiga puluh delapan setengah menit
yang lalu? Saya
khawatir dia bermaksud jelek.
L : Itu hal yang Logis. Dia ingin memperkosa
kita.
M : Oh tidak, dengan kecepatan berjalan kita
seperti ini, dalam waktu 15 menit dia akan
berhasil menangkap kita. Apa yang harus kita
lakukan.
L : Hanya ada 1 cara logis yg harus kita
lakukan,
yaitu berjalan lebih cepat.
M : Itu tidak banyak membantu, gimana nich…..
L : Tentu saja itu tidak membantu, Logikanya
kalau kita berjalan lebih cepat dia juga akan
mempercepat
jalannya.
M : Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dengan
kecepatan kita seperti ini dia akan berhasil
menangkap kita dalam waktu dua setengah
menit lagi…
L : Hanya ada satu langkah Logis yang harus
kita lakukan.. Kamu lewat jalan yang ke kiri
dan
aku lewat jalan yang kekanan. sehingga dia
tidak bisa mengikuti kita berdua dan hanya
salah
satu yang diikuti olehnya.
Setelah kedua gadis itu berpisah, ternyata Pria
tadi mengikuti langkah si gadis yang
menggunakan logika (L ).
Gadis matematis ( M) tiba di rumah lebih dulu,
dan dia khawatir akan keselamatan
sahabatnya.
Tapi, tidak berapa lama kemudian, Gadis
Logika
(L ) datang.
M : Oh, terima kasih Tuhan.. Kamu tiba dengan
selamat.
Eh, gimana pengalamanmu diikuti oleh Pria
tadi?
L : Setelah kita berpisah dia mengikuti aku
terus.
M : Ya.. ya.. Tetapi apa yang terjadi kemudian
dengan kamu?
L : Sesuai dengan logika, saya langsung
lari sekuat tenaga dan Pria itupun juga lari
sekuat tenaga mengejar saya.
M : Dan… dan..
L : Sesuai dengan logika, dia berhasil
mendekati saya di tempat yang gelap…
M : Lalu.. Apa yang kamu lakukan?
L : Hanya ada satu hal logis yang dapat saya
lakukan, yaitu saya mengangkat rok saya..
M : Oh… Lalu apa yang dilakukan pria tadi?
L : Sesuai dengan logika… Dia menurunkan
celananya…
M : Oh tidak… Lalu apa yang terjadi kemudian?
L : Hal yang logis bukan, kalau gadis yang
mengangkat roknya akan berlari lebih cepat
dari
pada
lelaki yang berlari sambil memelorotkan
celananya… So akhirnya aku bisa lolos dari pria
itu…
M :
hahahaa....

~mbah mimin error~

Rabu, 06 November 2013

Sejarah Awal Indonesia


Sejarah awal

Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.
Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu. Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan. Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM, menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad. Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.
Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan. Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.
Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15 Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Pofil Pembuat

Nama Lengkap : Sultan Aligazali
Sekolah : SMA Negeri 13 Makassar
Usia : 16 Tahun
Alamat : BTN ASabri Blok E8 No. 4
Agama : Islam
Kelas : XI IPA 2